junaidi erlan

welcome to my blog

Senin, 22 November 2010

hidup sekarang lebih baik dari kemarin
hidup sama seperti kemarin kita rugi
hidup lebih buruk dari kemarin kita celaka
hidup besok harus lebih baik dari hari ini..

kita dapat memulai semua ini dari segala macam aspek kehidupan yang kita jalani sehari2... misalnya beribadah lebih tepat waktu dibandingkan yang kemarin .
terkadang kita lebih mudah mengucapkan daripada melakukan terutama dalam menjalankan kegiatan yang baik......

jangan pikir saya melakukan ini semua...... tidak...... saya dalam baru dalam tahap kesana ,, namun sebagai sesama manusia wajib bagi kita untuk saling memperingatkan satu sama lain....
semoga kita semua menjadi generasi penerus bangsa yang mulia disisiNya....

Minggu, 07 November 2010

UJI VALIDITAS DAN REABILITAS DATA

Validitas dan reabilitas dalam hal ini adalah istilah yang digunakan untuk suatu persyaratan suatu alat ukur penelitian atau instrument penelitian.

Reliabilitas, artinya ketetapan maksudnya adalah bila mengukur berkali-kali hasilnya paling sedikit amat berbeda maka hasil ukurnya dikatakan reliable namun apabila mengukur berkali-kali tapi hanya sedikit yang berbeda maka hasil ukurnya dikatakan tidak reliable.

Alat-alat ukur fisika, seperti meteran, thermometer, timbangan dan sebagainya, umumnya sangat valid dan reliable, karena sebelum dipasarkan, telah silakukan uji validitas dan reliabilias.

Demikian dengan alat ukur social, ada yang sudah baku (standart), karena telah diuji validitas dan reabilitasnya, namun demikian banyak juga yang belum baku. Apalagi bila instrument itu dibuat sendiri untuk kepentingan peneliti sendiri. Misalnya, penelitian-penelitian tugas ilmiah dari para mahasiswa. Hal seperti itu merupakan tugas peneliti untuk melakukan uji validitas.

A. UJI VALIDITAS

1. Pengertian Uji Validitas

Validitas berasal dari kata validity yang memiliki arti ketepatan dan kecermatan (Machfoedz 2005).

Validitas adalah suatu indeks yang menunjukkan alat ukur itu benar-benar mengukur apa yang diukur (Soekidjo Notoatmodjo2005).

Sebagai contoh, apabila kita mengukur berat badan balita dengan timbangan beratnya 20 kg, Maka timbangan yang digunakan untuk menimbang anak tersebut juga menunjukkan 20 kg, bukan 20,5 atau 19 kg. hal ini menunjukkan bahwa timbangan yang kita pakai valid.

Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrument. Suatu instrument yang valid atau sahih mempunyai validitas tinggi, sebaliknya, instrument yang kurang valid berarti memiliki validitas rendah (Suharsimi Arikunto 2006).

2. Macam-macam validitas

Menurut Suharsimi Arikunto (2007) membagi validitas instrument penelitian menjadi dua jenis yaitu validitas logis dan validitas empiris. Sebuah instrument dikatakan memiliki validitas logis apabila instrument tersebut secara analisis akal sudah sesuai dengan aspek yang diungkapkan.

Dalam buku yang berjudul Prosedur Penelitian Suatu pendekatan Praktek Arikunto juga membagi validitas menjadi du amacam yaitu validitas eksternal dan validitas eksternal. Dikatakan memiliki validitas eksternal apabila data yang dihasilkan dari instrument tersebut sesuai dengan data atau informasi lain yang mengenai variable penelitian yang dimaksud.validitas internal dicapai apabila terdapat kesesuaian antara bagian-bagian instrument antara bagian-bagian instrument dengan instrument secara keseluruhan.

3. Menghitung Validitas

Tehnik yang dipakai dalam menghitung apakah data kita valid atau tidak adalah dengan menggunakan korelasi product moment. Dengan rumus sebagai berikut:

RUMUS 1

Tehnik korelasI Product Moment (Soekidjo Notoatmodjo2005

UJI VALIDITAS DAN REABILITAS DATA

Validitas dan reabilitas dalam hal ini adalah istilah yang digunakan untuk suatu persyaratan suatu alat ukur penelitian atau instrument penelitian.

Reliabilitas, artinya ketetapan maksudnya adalah bila mengukur berkali-kali hasilnya paling sedikit amat berbeda maka hasil ukurnya dikatakan reliable namun apabila mengukur berkali-kali tapi hanya sedikit yang berbeda maka hasil ukurnya dikatakan tidak reliable.

Alat-alat ukur fisika, seperti meteran, thermometer, timbangan dan sebagainya, umumnya sangat valid dan reliable, karena sebelum dipasarkan, telah silakukan uji validitas dan reliabilias.

Demikian dengan alat ukur social, ada yang sudah baku (standart), karena telah diuji validitas dan reabilitasnya, namun demikian banyak juga yang belum baku. Apalagi bila instrument itu dibuat sendiri untuk kepentingan peneliti sendiri. Misalnya, penelitian-penelitian tugas ilmiah dari para mahasiswa. Hal seperti itu merupakan tugas peneliti untuk melakukan uji validitas.

A. UJI VALIDITAS

1. Pengertian Uji Validitas

Validitas berasal dari kata validity yang memiliki arti ketepatan dan kecermatan (Machfoedz 2005).

Validitas adalah suatu indeks yang menunjukkan alat ukur itu benar-benar mengukur apa yang diukur (Soekidjo Notoatmodjo2005).

Sebagai contoh, apabila kita mengukur berat badan balita dengan timbangan beratnya 20 kg, Maka timbangan yang digunakan untuk menimbang anak tersebut juga menunjukkan 20 kg, bukan 20,5 atau 19 kg. hal ini menunjukkan bahwa timbangan yang kita pakai valid.

Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrument. Suatu instrument yang valid atau sahih mempunyai validitas tinggi, sebaliknya, instrument yang kurang valid berarti memiliki validitas rendah (Suharsimi Arikunto 2006).

2. Macam-macam validitas

Menurut Suharsimi Arikunto (2007) membagi validitas instrument penelitian menjadi dua jenis yaitu validitas logis dan validitas empiris. Sebuah instrument dikatakan memiliki validitas logis apabila instrument tersebut secara analisis akal sudah sesuai dengan aspek yang diungkapkan.

Dalam buku yang berjudul Prosedur Penelitian Suatu pendekatan Praktek Arikunto juga membagi validitas menjadi du amacam yaitu validitas eksternal dan validitas eksternal. Dikatakan memiliki validitas eksternal apabila data yang dihasilkan dari instrument tersebut sesuai dengan data atau informasi lain yang mengenai variable penelitian yang dimaksud.validitas internal dicapai apabila terdapat kesesuaian antara bagian-bagian instrument antara bagian-bagian instrument dengan instrument secara keseluruhan.

3. Menghitung Validitas

Tehnik yang dipakai dalam menghitung apakah data kita valid atau tidak adalah dengan menggunakan korelasi product moment. Dengan rumus sebagai berikut:

RUMUS 1

Tehnik korelasI Product Moment (Soekidjo Notoatmodjo2005

Jumat, 04 Juni 2010

PENGALAMAN MEMBELI KONDOM






Disusun oleh:
JUNAIDI (020701010)

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
STIKES NGUDI WALUYO
UNGARAN
2010
Membeli kondom adalah tugas yang paling oedan yang pernah saya kerjakan, kedengarannya emang gila sich, tmen2 ja pada bilang edan ngapain beli kondom kamu minta ja padaku. Tapi yang namanya tugas kan harus dikerjain to??
Dari pada rebut ngomongin temen mending kita mulai ja ceritanya.
Rabu malam ato malem kamis, pas lagi ngumpul2 ma anak2 KM semester IV di salah satu kos temen terbaikku fitri namanya, kita waktu itu habis ngerjain tugas epid lingkungan tiba2 kepikiran tugas dari pak Pri kalau kita disuruh untuk membeli kondom, saya ajak ja partner cewek biar agak seru dikit.
Setelah selesai ngerjain tugas epid lingkungan saya pinjem motor dan helm teman, maklum QT gag da motor. Hupt …. Akhirnya berangkat juga torerorenggggggg…..
berangkat ya asal berangkat tujuan apotek mna ja belom tau, akhirnya sampai di apotek sari sehat sebelum luwes kiri jalan lok arah ke semarang. Bruuum moteor di standar dan kita masuk…. Wah lumayan rame juga tu apotek sampai2 keluar keringat dingin, maklum ini pengalaman pertama beli kondom, sudah rame be;inya sama cewek pula, tapi haaaaaaah, pepatah Lombok mengatakan “inak lek julu amak lek muri’ artinya ibu didepan dan ayah di belakang maksudnya gag kan terjadi apa2..
“hm permisi mbak” keluar suara dari mulut yang begitu berat, kebetulan pelayannya cewek.
“ya cari apa dek” kata mbk itu.
“Mo beli kondom mbk” wah meledak hatiku. Hah…..
Saya lihat pelanggan yang di dekatku menoleh, “wah berabe ney Gir” berbisik ke tmen seperjuangan. Temen seperjuanganku jawabb dengan senyum.
“mo yang mna mas” kata pelayan
Langsung aja hajar dengan pertanyaan inti
Me : “kondom yang bagus apa mbak”
Pelanggan : ini mas, sambil mengambilkan kondom merk durex.
Terus langsung saja saya tanyakan mengenai harga, terus paling laku apa aja.
Harga kondom bervariasi mulai dari yang paling mahal durex 12 ribu, fiesta 5000 rupiah. Yang paling laku adalah sutra karena paling murah 25000 rupiah per pack isi 3. Kondom fiesta mempunyai beraneka ragam rasa, ada rasa strowberi, durian dan lain sebagainya.
Masa cuman nanya kondom yo gag enak kalo gag beli, ya udah saya beli aja kondom fiesta rasa strowberi yang paling murah he..he.. maklum uang Cuma tinggal 10.000 perak. Dan berangkat pulang.
Gag puas hanya dengan satu apotik kami kemudian ke apotik K24 mijen. Wah kalo disini tambah seru lagi.. kebetulan pas mo beli ada pelanggan bpk2 lagi beli obat, terus langsung saja bilang permisi mas mo beli KONDOM, bpk ntu ngelirik kayak gmanaaaaaa gtu, mungkin dia mikirnya remaja sekarang gag punya malu. Hah what ever ….. untungggg saya gag ngajak cewekku sendiri, bisa-bisa dia balik kanan bubar jalan pulang.. ha…ha…ha..
Lanjut cerita disana, kami berlagak agag mesra dikit biar kelilhatan meyakinkan. Disana gag cuman di kasih liat kondom tapi obat kuat sekalian wah gila, pasti mikirnya habis beli kondom langsung main, abis pake helm and ma cewek jga sich, ceweknya lumayan seksi lho.
Di apotek K24 kami beli kondom sutra harga 2500 lagi-lagi milih yang paling murah gag da dana kok.
Habis ngambil dan kondom kami pulang, sampai luar apotek saya pura-pura benerin helm temenku itu, eh ternyata pelayan di apotek itu masi mengamati kami sambil ngerumpi….. ha..ha…ha… kayaknya kami berhasil meyakinkan mereka. Hatiku berkata “Maaf aja ya mas, mbak kami cuma acting”.
Nah sampai di kos kami coba buka satu kondom fiesta rasa stroberi yang kami beli tadi, katanya temenku pengen liat sich, abis dibuka kalau dibuang sia-sia mending buat balon saja, dan balonnya lumayan buat pajangan di kos.ne sekaarang aja masi terganting di tembok.
Dari tugas ini saya dapat mengambil beberapa hikmah diantaranya : kita bisa mencoba mengingat peristiwa yang kita lakukan dan menuangkannya dalam tulisan, yang nantinya apabila kita melakukan penelitian mengenai studi kualitatif mestinya kita akan menemui peristiwa yang sama dalam mengambil data baik dengan NGP maupun wawancara mendalam.
Dan kita juga dapat mengetahui bahwasanya seks dikalangan masyarakat masih

Senin, 31 Mei 2010

Desain Komunikasi Kesehatan

DESAIN KOMUNIKASI KESEHATAN
“ASI EKSKLUSIF SELAMA ENAM BULAN PERTAMA SEBAGAI NUTRISI TERBAIK UNTUK BUAH HATI”

1. Baground of The Project
Air Susu Ibu (ASI) merupakan makanan alamiah yang ideal untuk bayi, terutama pada bulan-bulan pertama. Memberikan makan bayi dengan ASI bukan hanya memberinya awal kehidupan yang sehat dan bergizi, tetapi juga merupakan cara yang hangat, penuh kasih dan menyenangkan. Ia merasa aman, terlindung dan disayangi (Welford, 2001). Manfaat utama ASI eksklusif bagi bayi diantaranya sebagai nutrisi terbaik, meningkat daya tahan tubuh, meningkatkan kecerdasan, meningkatkan jalinan kasih sayang. Semakin lama semakin banyak wanita yang tidak menyusui bayinya sendiri.
Air Susu Ibu (ASI) adalah makanan pertama yang terbaik bagi bayi hingga usia 4-6 bulan. Setelah itu bayi harus diperkenalkan dengan ragam makanan padat, meski ASI masih tetap diberikan hingga anak berumur dua tahun bahkan lebih. Pemenuhan kebutuhan gizi terutama diperlukan sejak masa janin sampai anak berusia lima tahun. Pemenuhan gizi pada masa rawan ini sangat menentukan kualitas seseorang ketika mencapai usia reproduksi (Krisnatuti, 2000).
Air Susu Ibu adalah jenis makanan yang mencukupi seluruh unsure kebutuhan bayi baik fisik, psikologis, social, maupun spiritual (Hubertin, 2004). ASI mempunyai nilai gizi yang paling tinggi dibandingkan dengan makanan bayi yang dibuat oleh manusia (susu formula) ataupun yang berasal dari hewan. ASI yang keluar pertama kali setelah Ibu melahirkan berwarna kekuningan, kental, dan agak lengket disebut kolostrum.(Krisnatuti, 2000).
Air Susu Ibu merupakan makanan yang ideal untuk bayi terutama pada bulan-bulan pertama. ASI mengandung semua zat gizi untuk membangun dan penyediaan energi dalam susunan yang diperlukan. ASI tidak memberatkan fungsi pencernaan yang belum berfungsi baik pada bayi yang baru lahir, serta menghasilkan pertumbuhan fisik yang optimum. ASI memiliki berbagai zat anti infeksi. Zat-zat anti infeksi dapat digolongkan dalam golongan spesifik dan non spesifik. Responsi imunitas spesifik pada umumnya memerlukan kerja sama dengan zat non spesifik untuk menyingkirkan kuman atau virus dalam tubuh. Factor-faktor proteksi terdiri atas berbagai macam imunoglobin, lizosim, laktoperoksidase, factor pertumbuhan laktibasilus, substansi anti-streptokokus, laktoferin makrofag, dan lipase. (Pudjiadi, 2000).
Menurut SKDI tahun 2003 prevalensi pemberian ASI eksklusif hingga bayi berumur 6 bulan masih rendah yaitu sebesar 39,5 % sedangkan menurut SUSENAS prevalensinya hanya sebesar 15-17% dari tahun 1995-2003. Meskipun status pekerjaan pada ibu bukan lagi menjadi halangan namun kegagalan pemberian ASI eksklusif masih banyak terjadi.
Adanya fakta ironis yang terjadi di Indonesia bahwa kita begitu gelisah dengan tingginya kematian Ibu dan anak, namun di sisi lain masyarakat Indonesia, tidak risau dan bahkan mengabaikan pentingnya ASI yang dapat mencegah berbagai penyakit infeksi dan alergi. Berdasarkan survey yang dilakukan Hellen Keller Internasional pada 2002, terungkap bahwa rata-rata bayi Indonesia yang mendapatkan ASI eksklusif sampai saat ini baru mencapai angka 1,7 bulan. Angka tersebut masih 4,3 bulan jauh di bawah lama waktu optimal yang di rekomendasikan WHO serta SK MenKes No.450/MenKes/SK/IV/2004.
Hasil survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI), terungkap bahwa tingkat partisipasi pemberian ASI di negeri ini justru mengalami penurunan dari 42,4% pada tahun 1997 menjadi hanya 39,5% pada posisi tahun 2002-2003, hanya ada 4% bayi yang mendapat ASI dalam satu jam kelahiran, hanya 8% bayi Indonesia yang mendapat ASI eksklusif enam bulan sedangkan pemberian susu formula meningkat hingga tiga kali lipat dalam kurun waktu 5 tahun.
Berdasarkan latar belakang di atas, perlu dibuat komunikasi kesehatan untuk memasarkan ASI ekslusif kepada calon Ibu agar dapat melaksanakan ASI eksklusif pada saat kelahiran buah hatinya.

2. Objective of Pruduct
Tujuan dilakukannya komunikasi kesehatan mengenai ASI eksklusif kepada ibu hamil adalah :
 Menginformasikan mengenai ASI eksklusif
 Menginformasikan bagaimana waktu lama menyusui yang optimal
 Setelah mangetahui tentang pentingnya ASI eksklusif dan bagaimana waktu lama menyusui yang optimal daharapkan sampai minat/ perilaku ingin melakukan ASI ekslusif selama 6 bulan pertama pada buah hati.

3. The Target Adopter Population
a) Segmentation
1) Geografis
Secara geografis target adopter yang dituju adalah ibu hamil yang berada di wilayah kota Semarang.
2) Demografis
Target adopter memiliki usia antara 20 sampai 30 tahun, dengan siklus hidup keluarga merupakan pasangan yang belum memiliki anak (kehamilan untuk pertama kalinya). Pekerjaan sebagai pegawai perusahaan dengan latar belakang pendidikan Perguruan Tinggi dari kelas social menengah keatas.
Dari usia target adopter merupakan generasi Y dan Millenialis dimana terfokus pada gaya urban, idealis, multikultur, cerdas teknologi, terdidik, tumbuh dalam masyarakat yang makmur dan memiliki kemampuan pengeluaran besar.
Dari karakteristik target adopter diatas akan menjadi referensi dalam strategi penggunaan media dalam desain komunikasi kesehatan.
3) Psikografis
Secara psikografis target adopter memiliki gaya hidup sebagai kelompok pengejar prestasi dimana tujuan hidup berorientasi / berfokus pada karier dan keluarga dan senang menunjukkan keberhasilan pada rekan mereka.
Mengingat kehamilan yang pertama kali, mencari informasi merupaka hal yang pasti akan dilakukan oleh target adopter, baik informasi mengenai proses kehamilan maupun proses persalinan mendatang. Hal tersebut dilakukan karena target adopter ingin memberikan yang terbaik untuk keluarga.
Informasi mengenai ASI eksklusif salah satu informasi yang akan dicari oleh target adopter, karena ASI eksklusif merupakan hal yang sangat penting bagi buah hati yaitu merupakan makanan yang ideal untuk bayi terutama pada bulan-bulan pertama. ASI mengandung semua zat gizi untuk membangun dan penyediaan energi dalam susunan yang diperlukan.

b) Targeting
Target adopter dari promosi kesehatan perilaku menyusui ASI eksklusif adalah ibu dengan kehamilan pertama yang sedang mencari informasi untk mempersiapkan persalinan pertamanya. Dengan segmen kelompok “pengejar prestasi”. Target senang mencari informasi terbaru untuk memberikan yang terbaik kepada keluarganya.
Air Susu Ibu (ASI) merupakan makanan alamiah yang ideal untuk bayi, terutama pada bulan-bulan pertama. ASI tidak memberatkan fungsi pencernaan yang belum berfungsi baik pada bayi yang baru lahir, serta menghasilkan pertumbuhan fisik yang optimum. ASI memiliki berbagai zat anti infeksi. Zat-zat anti infeksi dapat digolongkan dalam golongan spesifik dan non spesifik. Responsi imunitas spesifik pada umumnya memerlukan kerja sama dengan zat non spesifik untuk menyingkirkan kuman atau virus dalam tubuh. Factor-faktor proteksi terdiri atas berbagai macam imunoglobin, lizosim, laktoperoksidase, factor pertumbuhan laktibasilus, substansi anti-streptokokus, laktoferin makrofag, dan lipase. (Pudjiadi, 2000).
Memberikan makan bayi dengan ASI bukan hanya memberinya awal kehidupan yang sehat dan bergizi, tetapi juga merupakan cara yang hangat, penuh kasih dan menyenangkan. Dengan demikian pada masa periode emas bagi buah hati dapat diwujudkan apabila pada masa ini bayi memperoleh asupan gizi yang sesuai untuk tumbuh kembang optimal. Hal ini merupakan sesuatu yang dapat membanggakan sang Ibu dimana sang Ibu telah memberikan yang terbaik bagi sang buah hati dengan memberikan ASI ekslusif kepada bayi pada 6 bulan pertama.
c) Positioning
Promosi kesehatan pemberian ASI ekslusif merupakan produk kesehatan yang dapat diandalkan oleh ibu yang akan bersalin terutama pada ibu yang baru pertama kalinya mengalami persalinan. Dengan memberikan ASI eksklusif maka akan menjadi sebuah kebanggaan pada sang ibu dimana kebutuhan sang buah hati akan terpenuhi dengan optimal sehingga buah hati akan tumbuh dan berkembang sesuai yang diharapkan.
Namun secara tidak langsung produk memberikan ASI eksklusif mempunyai competitor yaitu adanya iklan susu formula yang sangat gencar. Dimana iklan susu formula dapat menembus dalam berbagai media komunikasi misalnya TV, Koran, majalah, radio dan media komunikasi lainnya. Hal ini akan mempengaruhi perilaku pemberian ASI eksklusif menjadi tidak optimal karena ada yang beranggapan bahwa pemberian ASI tidak mencukupi kebutuhan bayi pada 6 bulan pertama, padahal tidak dianjurkan untuk memberikan makanan tambahan pada bayi selain ASI.

4. Review of Social Product
Produk social yang akan dipromosikan adalah perilaku pemberian ASI eksklusif pada ibu yang pertama akan memiliki buah hati, dengan pesan :
“ASI eksklusif pada enam bulan pertama sebagai nutrisi terbaik untuk buah hati”
Perilaku pemberian ASI eksklusif penting dilakukan oleh Ibu yang memiliki buah hati untuk mendukung tumbuh kembang buah hati secara optimal. Dengan demikian diharapkan pemberian ASI eksklusif menjadi sangat penting untuk kebutuhan buah hati pada enam bulan pertama. Diharapkan pula ibu memberikan ASI eksklusif pada sang buah hatu selanjutnya.
5. A Scan of Environment
Promosi ini akan dilakukan di tempat praktik dokter kandungan, rumah sakit bersalin dan internet yang sudah di rancang sedemikian rupa untuk memberikan ibu berbagai informasi seputar ASI eksklusif.
6. Opportunities
Product ini memiliki kekuatan yang cukup besar karena product ASI ekslusif menjadi hal yang sangat penting hinnga mendunia, dimana untuk mencapai tumbuh kembang optimal, di dalam Global Strategi for Infant and Young Child Feeding, WHO/UNICEF merekomendasikan empat hal penting yang harus dilakukan yaitu pertama memberikan ASI kepada bayi segera dalam waktu 30 menit setelah bayi lahir, kedua memberikan hanya ASI saja atau pemberian ASI eksklusif sejak lahir sampai bayi berusia 6 bulan,ketiga memberikan makanan pendamping ASI (MP-ASI) sejak bayi berusia 6-24 bulan, dan keempat meneruskan pemberian ASI sampai aank berusia 24 bulan atau lebih. Rekomendasi tersebut menekankan, secara social budaya MP-ASI hendaknya dibuat dari bahan pangan yang murah dan mudah untuj diperoleh di daerah setempat.
Rekomendasi WHO/UNICEF diatas sejalan denagn Rencana Pembangunan Jangka Panjang dan Menengah Nasional (RPJPMN) bidang kesehatan, antara lain dengan memberikan prioritas kepada perbaikan kesehatan dan gizi bayi dan anak. Sebagai tindak lanjut RPJPMN, Rencana Aksi Nasional (RAN) Pencegahan dan Penanggulangan Gizi Buruk Tahun 2005-2009 telah menyusun sejumlah kegiatan yang segera dilaksanakan. Seluruh perbaikan gizi yang dilakukan diharapkan dapat menurunkan masalah gizi kurang dari 27,3% tahun 2003 menjadi 20% pada tahun 2009, dan masalah gizi buruk dari 8,0% tahun 2003 menjadi 5% pada tahun 2009.
Untuk mencapai target diatas, dilakukan sejumlah kegiatan yang bertumpu kepada perubahan perilaku dengan cara mewujudkan Keluarga Sadar Gizi (Kadarzi). Melalui penerapan perilaku Keluarga Sadar Gizi, keluarga di dorong untuk memberikan ASI eksklusif pada bayi sejak lahir sampai berusia 6 bulan dan memberikan MP-ASI yang cukup dan bermutu kepada bayi dan anak usia 6-24 bulan.
7. Media Komunikasi
Product ASI eksklusif ini memiliki sasaran ibu hamil dengan kelas social menengah keatas dimana terfokus pada gaya urban, idealis, multikultur, cerdas teknologi, terdidik, tumbuh dalam masyarakat yang makmur dan memiliki kemampuan pengeluaran besar.
Sehingga karakteristik sasaran di atas menjadi preverensi dalam pemilihan media yang digunakan. Berikut media yang digunakan untuk mempromosikan produk ASI eksklusif:
 Poster dengan ukuran 40×60cm
 Web site: http://asieksklusif.tripod.com
8. Promotion strategies
Strategi promosi yang dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
 Memesang poster ukuran 40×60cm ditempat strategis, yang dapat: dijangkau oleh ibu seperti: tempat praktek dokter kandungan, rumah sakit bersalin yang ada di kota semarang. Poster ini dimaksudkan selain untuk mempromosikan ASI eksklusif juga untuk mempublikasikan alamat web site. Dalam poster tercanum alamat web site dan email yang dapat diakses oleh ibu.
 Poster di pasang di ruang tunggu atau tempat pendaftaran yang sekiranya dapat diakses oleh ibu hamil. Poster ini menggambarkan ibu yang merasa bahagia dengan kelahiran bayinya dan menyampaikan pesan “Asi Eksklusif Selama Enam Bulan Pertama Sebagai Nutrisi Terbaik Untuk Buah Hati”. Poster ini sangat sederhana tidak terlalu rumit, namun cukup membuat ibu terangsang untuk ingin mengetahui lebih banyak mengenai ASI eksklusif.
 Membuat Web site: http://asieksklusif.tripod.com dimana di dalamnya terdapat informasi seputar ASI eksklusif. Mulai dari informasi apa yang dimaksud dengan ASI eksklusif sampai bagaimana pemberian ASI eksklusif yang optimal pada buah hati.
 Membuat link dengan web site lain yang berhubungan dengan ASI eksklusif, untuk mempermudah pengunjung web site untuk memperoleh informasi lainnya.
 Membuat kolom komentar untuk para pengunjung, untuk melihat bagaimana attensi mereka terhadap ASI eksklusif.
 Membuat alamat email untuk forum Tanya jawab mengenai ASI eksklusif.
 Membuat polling untuk mengetahui minat ibu dalam memberikan ASI eksklusif.
9. Evaluation
Evaluasi dari program ini sesuai dengan tujuan awal:
 Untuk mengetahui antusiasme sasaran mengenai ASI eksklusif. Dapat di evaluasi dengan:
- Melihat jumlah pengunjung website.
- Jumlah komentar yang ada di kolom komentar.
- Jumlah email yang masuk.
 Untuk mengetahui bahwa sasaran memiliki minat melakukan ASI eksklusif dapat dilihat melalui
- Komentar yang masuk
- Pertanyaan dari email yang masuk
- Hasil polling dari web site










Referensi
1. Liliweri, Alo. Dasar-Dasar Komunikasi Kesehatan. Pustaka pelajar, Yogyakarta, 2007.
2. Bagaumana agar anak kita sehat dan cerdas, http://www.medicastore.com/asi_susuformula/ , diakses tanggal 31 januari 2010.
3. Depkes RI, 2006. Pedoman umum pemberian asi pendamping air susu ibu (MP-ASI) local.
4. Pudjiadi, S. 1990. Ilmu gizi klinis pada anak. Balai penerbit FKUI Jakarta.